Wednesday, 2 January 2008

HASIL PENGUJIAN RESIDU PESTISIDA



Ini adalah hutang saya yang terbesar pada pelanggan Gasol, MEMBUKTIKAN PRODUK GASOL BEBAS RESIDU PESTISIDA.

Saya berdiskusi ke sana sini, untuk mencari alternatif terbaik uji residu pestisida.

Mengutip motto Soil & Health Library Australia :
Health begins in the soil; Healing begins with hygiene

Akhirnya memutuskan untuk uji tanah dan air yang digunakan untuk pertanian di Laboratorium Seameo Biotrop (sudah terakreditasi KAN).

Hasilnya :
TIDAK TERDETEKSI pada limit deteksi < 0.0002 mg/kg (ppm) dengan metode Gas Chromatograhy.

Hasil lab ini (2 Januari 2008), menjadi pembuka yang indah untuk tahun 2008.

Semoga hasil analisa ini memberikan jaminan akan mutu produk kami.

Terima kasih atas kepercayaan mengkonsumsi produk Gasol.

SELAMAT TAHUN BARU 2008, SEMOGA TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA.

Saturday, 15 December 2007

REVOLUSI DI DESA GASOL

Terima kasih kepada Hendi Johari yang telah mengangkat topik ini di Majalah Nebula No.01/THN-IV/Desember 2007 halaman 22-23. Saya merasa sangat terhormat ditempatkan sebagai TOKOH PEREMPUAN.

Berikut tulisan lengkapnya.

Sebuah “revolusi” dilakukan secara diam-diam oleh Ika Suryanawati. Hasilnya? Padi-padi jenis langka tumbuh lagi.



Suatu senja di awal November. Hujan deras meliputi Desa Gasol. Airnya luruh seperti ribuan jarum perak menghujam lahan pesawahan, ditingkahi embusan angin dingin yang membuat daun-daun pohon pisang yang berjejer menari-nari. Dari balik kabut, atap sebuah bangunan kayu mencuat. Sekilas, bentuk bangunan itu menyerupai kuil shaolin. Namun setelah didekati, ternyata itu adalah sebuah rumah modern yang sebagian besar bahannya dari kayu.

Di lahan seluas dua hektare itulah, Ika Suryanawati menjalankan proyek idealnya. Dari 2006, dengan tekun dan sabar, ia mengembangkan beberapa jenis padi varietas lokal yang keberadaannya nyaris punah. Hawara batu, gobang omyok, peuteuy, banggala, pandan wangi, beureum seungit, ketan cikur dan cogreng, adalah nama-nama jenis padi yang sedang dikembangkannya.

Perhatian Ika kepada padi-padi langka tersebut muncul seiring kesibukannya membuat pertanian organik. Itu adalah istilah sistem pertanian tradisional yang pengelolaannya sama sekali jauh dari sentuhan pupuk kimia dan pestisida. “Saya tertarik bikin pertanian organik setelah membaca buku karya Masanobu Fukuoka, Revolusi Sebatang Jerami,” kenang ibu dari tiga anak itu.

Dari buku itu, ia jadi tahu jika selama ini manusia selalu memaksa alam untuk menghasilkan lebih bagi dirinya. Ika memberi contoh bentuk pemaksaan itu dengan maraknya produk massal pertanian penuh rekayasa kimiawi. Dengan berbagai cara, tumbuhan dipaksa memproduksi hasil yang banyak dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Manusia hanya menjadi budak ketidaksabaran dan semata mementingkan kuantitas.

Ika kemudian bergerak cepat mencari informasi tentang jenis-jenis padi langka yang diminatinya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah mengunduh informasi dari mesin pencari di internet. “Hasilnya nihil, semua mesin pencari tidak bisa menemukan informasi yang saya inginkan,” ujar perempuan kelahiran Cianjur 40 tahun lalu itu.

Tidak putus asa, Ika mencari informasi langsung ke lapangan. Hampir semua desa yang dulu dikenal sebagai penghasil beras Cianjur, didatanginya. Dari Desa Jambudipa hingga ke Desa Panumbangan. Namun, semua jawabannya sama. ”Para petani itu mengaku sudah lama tidak menanam lagi jenis-jenis padi yang saya cari,” ujarnya.

Namun, keberuntungan menghampirinya di paruh kedua 2006. Justru dari beberapa petani tua di Gasol, ia mendapatkan bibit-bibit padi yang diinginkannya. Walaupun, untuk mendapatkannya tidak mudah. “Saya harus teliti sekali memilih-milihnya, karena di leuit semua jenis padi sudah bercampur baur,” kenang perempuan yang sehari-harinya bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta itu.

Alumni Fakultas Pertanian IPB itu lantas menghubungi beberapa petani setempat dan membuat perjanjian kerjasama berdasarkan bagi hasil. Kendati demikian, cara penanaman dan pengelolaan tetap ada di tangan Ika. ”Saya ingin mereka menanam satu lubang untuk satu bibit.”

Beberapa hari kemudian, para petani itu datang lagi, dan menyatakan tidak sanggup dengan metode penananaman yang Ika inginkan. Mereka menganggap cara seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Ika coba menjelaskan pada mereka sistem satu lubang satu benih adalah cara terbaik untuk membuat padi leluasa berkembang.

Dibandingkan sistem satu lubang lima benih yang menjadi kebiasaan petani sekarang, “Cara itu waktunya memang lama, tapi jika petani dulu bisa sabar, kenapa kita sekarang tidak?”

Karena tidak ada titik temu, akhirnya Ika mengakhiri kerjasama tersebut. Ia ke luar dari sistem bagi hasil, dan memutuskan untuk mengupah beberapa petani lain, kendati harus mengeluarkan biaya lebih. ”Cara ini membuat saya bisa bebas menerapkan cara penanaman yang saya ingini,” kata istri dari Fleming Wong itu.

Selain menggunakan sistem satu lubang satu benih, Ika pun memutlakkan pemupukan dengan bahan-bahan alami, seperti kompos dan pupuk kandang. Soal pengairan sawah pun, ia mengambilnya dari aliran hulu Sungai Cianjur yang masih jernih dan belum terkena polusi.

Hasilnya memang sangat menakjubkan. Setelah setahun, padi-padi langka itu tumbuh dengan subur. “Revolusi” yang dilakukannya ternyata tidak sia-sia. Panen pun berlangsung sukses. “Alhamdulillah, kami akhirnya bisa menikmati kembali nasi beras Cianjur asli yang pulen dan wangi itu,” ujarnya sambil tertawa.

Ika sangat percaya pada keselarasan alam dan manusia. Karena itu, ia menyerahkan sepenuhnya apa yang menjadi keinginan alam. Ia yakin, manusia hanya bertugas menjadi pelayan alam semata. Jika pelayanan kita baik, maka alam pun akan sendirinya memberikan hasil yang baik. ”Saya sangat percaya, alam memiliki cara sendiri untuk mengucapkan terimakasihnya,” katanya seraya menerawang jauh ke arah pesawahan.

Jam menunjukan angka 17.38. Hujan deras masih meliputi Desa Gasol. Airnya tetap luruh seperti ribuan jarum perak menghujam lahan pesawahan. Sebuah revolusi memang selalu lahir dari harapan dan keyakinan. Seperti harapan dan keyakinan Ika kepada padi-padinya. HENDI JOHARI.

Tuesday, 13 November 2007

GASOL MUNCUL DI AGRINA

Agrina, sebuah tabloid agribisnis dwi mingguan di edisi yang terbit 13 November 2007, memunculkan Gasol dengan judul YO, AJAK ANAK MENGENAL PERTANIAN.

Terima kasih buat reporternya Bapak Tri Mardi Rasa.

Tuesday, 6 November 2007

DETIK FOOD TOUR DE CIANJUR


Terima kasih kepada Detik Food - khususnya Panitia Penyelenggara - dan semua peserta Wisata Tour De Cianjur. Semoga perjalanan wisata ini membawa manfaat untuk kita semua.

Kami sangat menghargai artikel-artikel yang dimuat di Web Detikfood mengenai Pertanian Organik, Padi Varietas Lokal Cianjur dan Ragam Kuliner khas Cianjur.

1. Cingkrik dan Rogol yang Nyaris Punah
2. Pertanian Fukuoka dan Teh Walini
3. Gasol, Budidaya Padi Var Lokal Cianjur yang Hampir Punah
4. Raih Kesempatan Mencicipi Beras Beureum Seungit
5. Dodongkal, Pekoe, Ngaburung dan Beureum Seungit

Semoga acara-acara seperti ini bisa menjadi sarana untuk mengenal kekayaan alam dan kuliner Indonesia.

Note :
Terima kasih untuk Mbak Odilia Winneke, Mbak Devi, dan Mbak Eli.

Wednesday, 31 October 2007

SERTIFIKAT HALAL MUI

Di bulan Ramadhan, salah satu topik milis yang saya ikuti membahas tentang perlunya sertifikat halal MUI untuk makanan yang dikonsumsi umat Islam Indonesia.

Sejenak saya merenung, kalau beras dan tepung beras perlu gak yah ?

Tapi supaya Pembeli produk Gasol jadi lebih mantap, akhirnya kami ajukan permohonan untuk diaudit guna keperluan sertifikasi.

Tanggal 27 Oktober 2007, tim audit dari MUI Bandung mengunjungi Gasol untuk melihat cara budidaya pertanian, tempat penyimpanan hasil panen, dan cara pengolahan produk. Semua berjalan lancar.

Alhamdulillah sekarang produk Gasol (Beras, bekatul, tepung beras) sudah punya label HALAL.

Kami akan melaksanakan PERBAIKAN BERKELANJUTAN karena KEPUASAN PEMBELI ADALAH KEBANGGAAN KAMI. Terima kasih atas kepercayaan membeli produk kami.

Wednesday, 12 September 2007

PERNIKAHAN YUDI & FITRI

Saat Yudi & Fitri menyampaikan niatnya untuk melangsungkan akad nikah dan walimah di Gasol dengan tema GARDEN PARTY, kami langsung setuju dengan syarat mereka harus membuat Gasol Cantik Berbunga.

Di hari H, 2 September 2007, Alhamdulillah taburan bunga membuat keindahan Gasol tampak lebih berkilau.

Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang dipenuhi cinta dan rahmat.





HEALTHY FOOD FESTIVAL DI AL IZHAR

Agatha, sahabat saya di Js, menawarkan untuk mengikuti bazar Healthy Food Festival di Al Izhar tanggal 17 Agustus 2007. Tidak lama kemudian panitia menelpon dan khusus meminta Gasol Pertanian Organik ikut meramaikan dengan stand BERAS MERAH, pangan bergizi yang terabaikan.



Rupanya Agatha sudah membocorkan ke panitia, Gasol punya produk andalan yaitu Beras Merah Raja Wangi, yang tidak saja harum tapi juga rasanya enak. Komentarnya di SMS seperti ini :
Ika, nasi merahmu enak, kata Papahku enak kalau dimakan terasa kriuk-kriuk, berulang-ulang dia bilang enak, tanpa laukpun oke banget.

Sanjungan untuk Beras Merah Raja Wangi ini juga datang dari Mbak Lila, SMS nya berbunyi : Mbak Ika, anak & bayiku pada suka beras & bubur tepung berasnya ! Nasi merahnya pulen deh, sampai Nayla minta tambah terus. Buburnya juga Maira langsung suka tuh, saya jadi nggak repot lagi deh mesti giling-giling & saring beras merah kayak jaman Nayla bayi. Coba aku tau gasol dari dulu ya ! Thank you banget ya Mbak. Lila.


Kedua SMS itu masih saya simpan sebagai reminder untuk MENJADI YANG TERBAIK dengan
1. menjaga mutu produk
2. berupaya meningkatkan kepuasan pelanggan

Insya Allah kami tetap Istiqomah.